Minggu, 19 April 2015

Awal 2


“Kau, berani-beraninya!” sambil menggeram dengan cepat Feara mengambil kuda-kuda rendah di bawah gorila tersebut. Sekali lagi gorila tersebut dengan mudahnya menghempaskan Feara ke tanah. Feara yang terpental merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, ia pun menggeliat kesakitan di tanah. Tanpa jeda gorila tersebut sudah bersiap dengan serangan keduanya. Feara yang baru saja pulih dari rasa sakit tak mungkin dapat menghindari serangan gorila tersebut. Feara pun berpikir cepat dan menemukan pedangnya yang terpental tak jauh dari tempatnya sekarang. Selagi tinju mematikan sang gorila melayang ke arah Feara, Feara berusaha menggapai pedangnya yang hanya berjarak satu meter jauhnya. Detik demi detik berlalu dengan sangat lamban, tak sampai satu hasta jarak tinju gorila tersebut dengan Feara. Sama halnya dengan Feara yang tinggal sedikit lagi menggapai pedangnya yang terpental tadi. Dalam detik-detik itu sekilas terasa debaran jantung Feara yang semakin cepat. Sebuah pertaruhan nyawa saat pertamakalinya ia memasuki dungeon.
“Feara merunduk!” seru sebuah suara dari dalam lebatnya hutan, suara yang amat familier di telinga Feara. Tanpa banyak berpikir, Feara menuruti perintah suara milik Elbow tersebut. Seketika sebuah perisai batu terbentuk di depan Feara dan menghentikan tinju si gorila. Darah pun bermuncratan dari tangan si gorila. Melihat kesempatan tersebut Feara bangkit mengambil pedangnya dan menyerang gorila, sang gorila mengayunkan tangannya mencoba melakukan hal yang sama serti sebelumnya. Akibat pukulan salah sasaran tadi ayunan tangan gorila melambat dan dengan mudahnya dapat dihindari oleh Feara. Tanpa ragu, Feara pun menggorok gorila tersebut di bagian perut hingga dadanya. Bagitu gorila tersebut kesakitan tiba-tiba saja anak-anak panak yang terbuat dari batu kompak menancapkan diri di tubuh si gorila.
“Waktu yang tepat,” kata Feara kepada Elbow. Elbow hanya tersenyum lalu kembali berkonsetrasi pada lawannya, begitu juga Feara. Gorila yang kesakitan tersebut perlahan menghentikan perlawanannya sejenak. Baik Elbow maupun Feara, mereka meningkatkan kewaspadaan. Selain kepada gorila yang baru saja mereka tumbangkan, tetapi pada monster lain yang barang kali ada di sekitar mereka. Setelah memastikan tidak ada apapun, Feara menyarungkan pedangnya dan mengambil posisi duduk. Pucat di wajahnya masih terlihat jelas, tangannya pun tak bisa berhenti gemetar. Elbow pun mengikutinya dan mengambil posisi duduk di sebelah Feara, bersebrangan dengan gorila yang sejak tadi tidak menunjukan pergerakan.
“Kau baik-baik saja?” Feara yang pertama kali membuka mulutnya.
“Apanya yang baik-baik saja? Kau pikir dengan pergi ke dungeon berbahaya ini sendirian dapat membuatmu diakui? Asal kau tahu, ini bukan game yang sering kita mainkan dulu. Tidak ada hit point dan sebagainya, jika kau terkena serangan dari gorila tadi, bisa dipastikan kau akan tewas. Sekarang lihat dirimu yang kacau itu, bahkan berdiri pun kau takkan mampu,” omel Elbow panjang lebar.
“Maaf...” Feara sudah kehabisan kata-kata untuk membalas. Ia hanya tertunduk menyesali perbuatannya. Gara-gara ulahnya, ia hampir membuat Elbow terbunuh.
“Bahkan bagi diriku yang sudah memasuki tahap kedua juga masih terlalu dini untuk memasuki dungeon berbintang dua. Karena itu berjanjilah bahwa kau tidak akan mengulanginya lagi,” kata-kata berhenti keluar dari mulut Elbow, perlahan air mata meleleh di pipinya. “Aku sudah cukup kehilangan orang-orang yang kusayangi dan aku tidak mau merasakan hal itu lagi, jadi...” suasana berubah menjadi sendu, perlahan Feara pun merasakan sesuatu meleleh dari matanya.
“Aku berjanji, tidak akan mengulanginya lagi,” kata Feara disela isak tangisnya. Untuk beberapa saat susana menjadi semakin sendu dengan semilir angin yang numpang lewat.
“Ngomong-ngomong, kenapa tidak ada monster lagi yang mendekat ya?” kata Elbow segera setelah menyadari sesuatu yang aneh.
“Hmm?”
“Sekarang kita ada di dungeon, terlebih lagi kita telah membuat keributan. Setelah semua itu, kenapa tidak ada satu monster pun yang datang,” lanjut Elbow.
“Benar juga,” kata Feara baru sadar akan keanehan tersebut.
“Perasaan ini, jangan-jangan...” Elbow menyelidik udara di sekitarnya yang sedikit tenang dan bergetar.
“RADIAS!” kata Elbow dan Feara bersamaan.
“Sejak kapan?” Elbow berkata pada dirinya sendiri memperhatikan sekitarnya barangkali orang yang memasang pemancar radiasi di tengah dungeon ini masih berada di sekitarnya. Bahkan bagi orang pertingkat tinggi, pemancar radiasi adalah barang yang sangat langka. Bukan karena sulit mencarinya, tapi persyaratan untuk mendapatkannya yang sangat ketat. Tiba-tiba Feara teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong Elbow,” kata Feara.
“Apa?”
“Bagaimana kau bisa lolos dari pukulan maut gorila tadi?”
“Soal itu, aku diselamatkan oleh seseorang yang kira-kira seumuran dengan kita. Karena ia bergerak dengan sangat cepat, mungkin ia mengambil jurusan teleporter.”
“He?” kata Feara menatap Elbow dengan tatapan kebingungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar