“Hoi, kau
mendengarkan?” sebuah suara di pagi hari yang cerah memaksa bangung Feara yang
tertidur pulas setelah baru saja didongengi.
“Ha? Kau
mengatakan sesuatu?” kata Feara sambil mengulat.
“Itulah mengapa
anggota pemula sepertimu selalu menghambat!” omel Elbow melotot kepada Feara.
“Hah, apa
maksudmu menghambat? Lihat saja nanti aku akan berdiri paling depan ketika
melawan moster diluar sana!” seru Feara.
“Yap, lalu kau
yang akan mati pertama,” kata Elbow dengan nada merendahkan. Terlihat Feara
yang terpancing emosinya.
“Oke, mari
buktikan siapa yang akan mati terlebih dahulu ketika keluar kota nanti,” kata
Feara mengangkat sarung pedangnya dan mengacungkannya kearah Elbow.
“Hmm... tak
kusangka kau orang yang peka, hari ini aku sedang malas beradu kata denganmu,”
Elbow pun membalas mengacungkan tongkatnya. Entah sejak kapan pelataran base guild
tersebut sudah penuh sesak oleh penonton yang tertarik dengan keributan
barusan.
“Yang pertama
menyerah adalah pemenangnya, kau siap?” kata Elbow mengambil langkah mundur
memberi jarak.
“Serang aku
dari mana pun kau suka,” Feara pun
berjalan berputar mencari celah.
“Aku hanya
memastikan, agar kau tidak beralasan aku menyerang sebelum kau siap.” Elbow pun
melempar sekeping koin ke udara. Untuk sementara koin melayang diudara
mengalami gaya lempar vertikal keatas. Tak lama kemudian berhenti dan langsung
berbalik arah mengalami gerak jatuh bebas hingga menghantam tanah sebagai tanda
dimulainya duel tersebut.
“Ketika kalah
jangan menangis ya!” kata Feara dengan cepat bergerak maju mengarahkan
pedangnya ke Elbow bersamaan koin yang menyentuh tanah. Dengan cekatan Elbow
melompat untuk menghindari serangan dan mendarat memunggungi Feara.
“Aku akan
mengembalikan kata-kata tersebut padamu,” kata Elbow sambil menggenggam
tongkatnya dengan kuat dan seakan merapal sesuatu. Seketika Feara sudah
dikelilingi oleh panah yang melayang diudara dan siap meluncur untuk
menghabisinya. Berkat serangan barusan, keseimbangan Feara kacau dan tidak
memungkinkannya untuk menghindar.
“Checkmate!”
seru Elbow, seketika panah-panah tesebut menyerbu Feara. Dengan susah payah
Feara menepis dan menghindari panah-panah tersebut, tapi karena jumlahnya yang
terlalu banyak Feara pun terjatuh dan hampir saja terkena panah bila tidak
dihentikan oleh Elbow. Dengan keadaan terduduk serta tangan disilangkan di
depan muka yang pucat pasi, Feara mengintip lewat sela jarinya untuk memastikan
serangan barusan.
“Hoi-hoi,
kemana perginya orang yang menantangku dengan sombongnya tadi?” Elbow menunduk
mengadu jidatnya dengan jidat Feara.
“Berisik!
Alchemist sepertimu mempunyai keuntungan ketika pertarungan seperti tadi,” kata
Feara mencari alasan kekalahan.
“Haha, memang
benar tidak ada pecundang yang mengakui kekalahannya,” kata Elbow yang dengan
sombongnya menjadikan lutut Feara sebagai pijakan. Merasa dipermalukan di depan
orang banyak, Feara pun menunduk.
“Berisik!”
tiba-tiba saja Feara berteriak dan bangkit lalu berlari entah kemana, membuat
Elbow yang menjadikan lutut Feara sebagai pijakan kakinya terjerembab jatuh.
“Hoi!” seru
Elbow berusaha mencegah. Sia-sia. Didengarkan pun tidak oleh Feara yang terus
berlari entah kemana. Orang-orang yang tadi menonton sudah bubar kembali pada
kesibukannya masing-masing. Elbow pun menghela nafas sambil mengembalikan
tongkatnya kebentuk semua setelah tadi dirubah menjadi anak panah.
“Setidaknya kau
harus mendinginkan kepalamu sebelum meninggalkan kota,” kata Elbow bergegas
menyusul Feara.
Tahun 2999, 31
Desember malam hari tahun baru. Makhluk mutan dan robot yang manusia buat
berkhianat dan berbalik menyerang manusia. Kekacauan terjadi di seluruh dunia.
Manusia yang tersisa menempatkan radiasi yang tidak disukai monster-monster
tersebut di berbagai area untuk mencegahnya masuk. Area yang dilindungi
pancaran radiasi tersebut biasa disebut sebagai kota. Meski di dalam kota
terbebas dari monster, tapi area di luar kota tersebut tak terjamin
keamanannya. Tidak ada yang akan tahu kapan monster akan menyerang bila berada
di luar kota. Area di luar kota biasa disebut dengan dungeon. Berbagai upaya
dilakukan manusia untuk mempersempit dungeon dan suatu saat merebut kembali
dunia mereka.
Demi tujuan
itulah berbagai perkumpulan dibuat. Berbagai jenis perkumpulan dibuat untuk
memudahkan bekerjasama dan membagi manusia dalam kelompok-kelompok kecil untuk
memudahkan pergerakan. Perkumpulan-perkumpulan ini lebih akrab disebut guild.
Guild-guild ini di atur oleh 3 guild terbesar yang menjadi akar dari
percabangan berbagai guild. Benua Amerika, Artik, Antarika dan pulau-pulau
serta laut disekitarnya berakar pada guild Western. Sedang Benua Asia dan Eropa
dan laut sekitarnya berakar pada guild Desert. Benua Afrika dan Australia
sisanya berakar pada guild Utopia.
Manusia-manusia
dalam guild tersebut di didik dengan berbagai cara untuk memusnahkan
monster-monster di dungeon. Tak sedikit sekolah di dalam satu kota. Misalnya
saja di kota Jakarta ini, ada sekolah dengan jurusan ilmu pedang, sihir,
teknologi dan dari satu sekolah tersebut ada berbagai jurusan yang bisa dipilih
oleh setiap siswa sesuai dengan keinginannya.
Feara berlari
menuju dungeon dengan perasaan kesal. Bukan kesal karena ledekan dari Elbow,
tapi karena ia lemah. Ia bahkan cukup lemah untuk kalah telak dari Elbow dalam
pertarungan satu lawan satu. Saat ini ia mengambil jurusan warrior yang
seharusnya unggul dalam pertarungan terbuka satu lawan satu. Meski begitu, ia
tetap kalah oleh Elbow yang mengambil jurusan alchemist, tingkat kedua dari
jurusan wizard yang ahli membantu kawan dengan serangan jarak menengah hingga
jauhnya.
“Sial! Aku akan
tunjukan padanya suatu saat nanti. Aku pasti akan membuatnya mengakuiku!”
teriak Feara menyerang monster yang ia temui secara membabi buta. Monster
sangat tidak menyukai radiasi yang ditempatkan di sekitar kota tersebut. Jika
mereka mendekatinya dalam jarak tertentu, mereka dapat kehilangan kesadaran
dalam sekejap. Tapi beberapa monster lemah yang biasa digunkan untuk mengintai
memiliki sedikit daya tahan terhadap radiasi tersebut. Monster tersebut diberi bintang
satu oleh guild-guild pusat. Semakin jauh dari kota maka radiasi semakin
melemah dan monsternya pun bertambah bintangnya. Jauh ditempat yang sama sekali
tidan terkena radiasi merupakan sarang monster yang berbintang sepuluh. Jarang
ada yang selamat setelah bertemu dengan monter berbintang sepuluh.
Saking
bersemangatnya tanpa sadar Feara sudah memasuki dungeon dengan monter
berbintang dua. Dari pada semangat, mungkin lebih tepat rasa kesal yang salah
sasaran pelampiasan. Mungkin awal-awal ia hanya bertemu dengan monster-monster
yang lemah, tapi semakin lama pedang yang ia ayunkan seringkali mendapat
perlawanan sengit dengan para monster. Tiba-tiba Feara merasakan firasat buruk,
ia menoleh ke arah semak-semak dan meningkatkan kewaspadaannya. Pedangnya ia
hunuskan siap menebas apapun yang akan keluar nantinya. Tanpa disadari, Feara
sudah memasuki sarang Nedht, monster bintang dua yang sebenarnya tidak agresif,
namun jika diusik mereka berubah menjadi predator yang sangat ganas.
Dari belakang
Feara sebuah pedang terayun mengarah pada punggung Feara yang tidak
terlindungi. Merasakan bahaya dari belakangnya Feara reflek melompat mundur
sekaligus menghindari sabetan pedang yang terayun tadi. Dalam sekejap mata
pelaku tindak penyabetan tadi menghilang ke dalam semak-semak. Bukan hanya soal
kekuatan, tapi semakin tinggi bintang suatu monster, semakin pintar juga
mereka.
“Sial, mereka
terus bersembunyi diam-diam lalu menyerangku. Mungkin ini yang orang katakan
diam-diam menghanyutkan,” gumam Feara pada dirinya sendiri. Matanya sangat awas
melihat pergerakan semak-semak di depannya. Tiba-tiba tiga nedht keluar secara
bersamaan dari pohon. Sayang Feara yang lebih siap dari sebelumnya dengan mudah
mengayunkan pedang dan menghabisi ketiga nedht tersebut tanpa ampun. Tak
menunggu lama nedht-nedht lain langsung menyerbunya tanpa ampun.
Keseimbangannya yang belum pulih sehabis menebas tiga buah Nedht membuatnya tak
dapat menghindar. Lebar mulut nedht-nedht membuak siap melahap Feara yang sudah
mati langkah.
“Karena itulah
kau selalu menjadi penghambat, dasar lemah!” seru sebuah suara dari kejauhan.
Tiba-tiba saja anak-anak panah meluncur mengenai nedht-nedht yang menyerang
Feara tepat di kepalanya. Jurus yang sama dengan yang digunakannya di kota
tadi. Dengan santainya ia berjalan mendekati Feara yang sudah kembali berdiri
tegak.
“He... ada apa?
Apa kau terpesona pada kecantikanku hingga tidak dapat berkata-kata?” Elbow
menundukkan kepalanya sedikit, kini wajah keduanya benar-benar berhadapan.
“Apa yang kau
lakukan disini?” kata Feara dengan jengkel, mungkin karena ini kedua kalinya ia
kalah dalam satu hari ini.
“Apa yang kau
lakukan kah... bukankah itu kata-kata yang pedas untuk seseorang yang dengan
repot-repot dari jauh datang hanya untuk mengurus anggota sampah di guildnya?”
Elbow pun memalingkan wajahnya, kali ini ia membungkuk untuk memungut anak
panah yang tadi ia luncurkan.
“Apa katamu!?”
seru Feara membuntuti Elbow. Dalam sekejap seluruh panah yang tadi ia gunakan
untuk membunuh para nedht berkumpul menjadi satu dan berubah bentuk menjadi
tongkat seperti semula.
“Hmm... aku
tidak keberatan jika kau menuntut pertandingan ulang. Seperti katamu, mungkin
aku memang DIUNTUNGKAN tadi. Yah mau bagaimana lagi, anggota kelas pertama
dipaksa berhadapan dengan anggota sampah,” dengan sengaja Elbow menekankan kata
“diuntungkan” untuk menyindir seseorang yang jurusannya lebih diuntungkan dalam
duel terbuka seprti itu.
“Itu...” tak
sempat Feara melengkapi kalimatnya, tiba-tiba saja sesuatu mendekati mereka. Suara
langkah yang bergema. Baik Feara dan Elbow pun tanpa bergeming menajamkan kewaspadaannya.
Suara langkah
kaki tersebut semakin dekat, hingga dengusan nafas makhluk tersebut dapat di dengar
oleh Feara dan Elbow. Sebuah gorila raksasa tiba-tiba melompat keluar dari
semak dan menyerbu Feara dan Elbow. Tentu saja dengan mudah Feara dan Elbow
dapat menghindari serangan tersebut, tapi dengan lincahnya gorila tersebut
menarik kaki Feara dan membantingnya.
Selagi gorila
tersebut bermain dengan Feara Elbow menyiapkan jurus andalannya, panah kayu. Tangannya
menggenggam tongkat kayunya dan mulutnya merapal sesuatu. Selesai merapal
anak-anak panah muncul diudara dan siap menyerang si gorila. Menyadari akan
bahaya gorila tersebut segera melindungi diri dengan bongkahan batu besar yang
entah dari mana ia mengambilnya. Panah yang diluncurkan tersebut pun terpental
berceceran dimana-mana. Dengan lincah Feara kembali bangkit setelah dibuang
begitu saja oleh si gorila dan menghunuskan pedangnya pada gorila tersebut. Feara
pun berlari dan mengambil ancang-ancang rendah untuk menebas si gorila. Tanpa mengalami
kesulitan gorila tersebut menurunkan satu tangan dan menghempaskan Feara ke
tanah. Detik selanjutnya, Elbow meluncurkan panah dengan gerakan parabola
keatas dan kesamping.
Melihat keadaan
tersebut sang gorila melemparkan batu yang ia gunakan untuk payun dan melompat
tinggi keatas. Elbow yang tidak siap menerima lemparan batu dari si gorila.
“Feara kau
masih bisa bergerak?” kata Elbow sambil menahan rasa sakit tergencet batu.
“Dalam keadaan
ini berdiri saja pun sudah susah,” kata Feara dengan keadaan yang tidak lebih
baik. Si gorila kembali menuju ke arah Elbow. Dengan menggertakkan gigi, Elbow
berusaha menakuti si gorila. Tanpa mempedulikan hal tersebut si gorila mengangkat
tangan bersiap meluncurkan bogem mentah.
“Sampai disini saja
kah...” gumam Elbow pada dirinya sendiri. Dari tangan gorila tersebut pun
bermuncratan darah ketika bogem mentahnya mengenai Elbow.
“ELBOW!” teriak
Feara dengan hinteris. Matanya melotot ke arah gorila tersebut yang kini sudah
beranjak membalikan badan dan menatap Feara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar