Kamis, 16 April 2015

Awal 1



“Hoi, kau mendengarkan?” sebuah suara di pagi hari yang cerah memaksa bangung Feara yang tertidur pulas setelah baru saja didongengi.
“Ha? Kau mengatakan sesuatu?” kata Feara sambil mengulat.
“Itulah mengapa anggota pemula sepertimu selalu menghambat!” omel Elbow melotot kepada Feara.
“Hah, apa maksudmu menghambat? Lihat saja nanti aku akan berdiri paling depan ketika melawan moster diluar sana!” seru Feara.
“Yap, lalu kau yang akan mati pertama,” kata Elbow dengan nada merendahkan. Terlihat Feara yang terpancing emosinya.
“Oke, mari buktikan siapa yang akan mati terlebih dahulu ketika keluar kota nanti,” kata Feara mengangkat sarung pedangnya dan mengacungkannya kearah Elbow.
“Hmm... tak kusangka kau orang yang peka, hari ini aku sedang malas beradu kata denganmu,” Elbow pun membalas mengacungkan tongkatnya. Entah sejak kapan pelataran base guild tersebut sudah penuh sesak oleh penonton yang tertarik dengan keributan barusan.
“Yang pertama menyerah adalah pemenangnya, kau siap?” kata Elbow mengambil langkah mundur memberi jarak.
“Serang aku dari mana pun  kau suka,” Feara pun berjalan berputar mencari celah.
“Aku hanya memastikan, agar kau tidak beralasan aku menyerang sebelum kau siap.” Elbow pun melempar sekeping koin ke udara. Untuk sementara koin melayang diudara mengalami gaya lempar vertikal keatas. Tak lama kemudian berhenti dan langsung berbalik arah mengalami gerak jatuh bebas hingga menghantam tanah sebagai tanda dimulainya duel tersebut.
“Ketika kalah jangan menangis ya!” kata Feara dengan cepat bergerak maju mengarahkan pedangnya ke Elbow bersamaan koin yang menyentuh tanah. Dengan cekatan Elbow melompat untuk menghindari serangan dan mendarat memunggungi Feara.
“Aku akan mengembalikan kata-kata tersebut padamu,” kata Elbow sambil menggenggam tongkatnya dengan kuat dan seakan merapal sesuatu. Seketika Feara sudah dikelilingi oleh panah yang melayang diudara dan siap meluncur untuk menghabisinya. Berkat serangan barusan, keseimbangan Feara kacau dan tidak memungkinkannya untuk menghindar.
“Checkmate!” seru Elbow, seketika panah-panah tesebut menyerbu Feara. Dengan susah payah Feara menepis dan menghindari panah-panah tersebut, tapi karena jumlahnya yang terlalu banyak Feara pun terjatuh dan hampir saja terkena panah bila tidak dihentikan oleh Elbow. Dengan keadaan terduduk serta tangan disilangkan di depan muka yang pucat pasi, Feara mengintip lewat sela jarinya untuk memastikan serangan barusan.
“Hoi-hoi, kemana perginya orang yang menantangku dengan sombongnya tadi?” Elbow menunduk mengadu jidatnya dengan jidat Feara.
“Berisik! Alchemist sepertimu mempunyai keuntungan ketika pertarungan seperti tadi,” kata Feara mencari alasan kekalahan.
“Haha, memang benar tidak ada pecundang yang mengakui kekalahannya,” kata Elbow yang dengan sombongnya menjadikan lutut Feara sebagai pijakan. Merasa dipermalukan di depan orang banyak, Feara pun menunduk.
“Berisik!” tiba-tiba saja Feara berteriak dan bangkit lalu berlari entah kemana, membuat Elbow yang menjadikan lutut Feara sebagai pijakan kakinya terjerembab jatuh.
“Hoi!” seru Elbow berusaha mencegah. Sia-sia. Didengarkan pun tidak oleh Feara yang terus berlari entah kemana. Orang-orang yang tadi menonton sudah bubar kembali pada kesibukannya masing-masing. Elbow pun menghela nafas sambil mengembalikan tongkatnya kebentuk semua setelah tadi dirubah menjadi anak panah.
“Setidaknya kau harus mendinginkan kepalamu sebelum meninggalkan kota,” kata Elbow bergegas menyusul Feara.
Tahun 2999, 31 Desember malam hari tahun baru. Makhluk mutan dan robot yang manusia buat berkhianat dan berbalik menyerang manusia. Kekacauan terjadi di seluruh dunia. Manusia yang tersisa menempatkan radiasi yang tidak disukai monster-monster tersebut di berbagai area untuk mencegahnya masuk. Area yang dilindungi pancaran radiasi tersebut biasa disebut sebagai kota. Meski di dalam kota terbebas dari monster, tapi area di luar kota tersebut tak terjamin keamanannya. Tidak ada yang akan tahu kapan monster akan menyerang bila berada di luar kota. Area di luar kota biasa disebut dengan dungeon. Berbagai upaya dilakukan manusia untuk mempersempit dungeon dan suatu saat merebut kembali dunia mereka.
Demi tujuan itulah berbagai perkumpulan dibuat. Berbagai jenis perkumpulan dibuat untuk memudahkan bekerjasama dan membagi manusia dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan pergerakan. Perkumpulan-perkumpulan ini lebih akrab disebut guild. Guild-guild ini di atur oleh 3 guild terbesar yang menjadi akar dari percabangan berbagai guild. Benua Amerika, Artik, Antarika dan pulau-pulau serta laut disekitarnya berakar pada guild Western. Sedang Benua Asia dan Eropa dan laut sekitarnya berakar pada guild Desert. Benua Afrika dan Australia sisanya berakar pada guild Utopia.
Manusia-manusia dalam guild tersebut di didik dengan berbagai cara untuk memusnahkan monster-monster di dungeon. Tak sedikit sekolah di dalam satu kota. Misalnya saja di kota Jakarta ini, ada sekolah dengan jurusan ilmu pedang, sihir, teknologi dan dari satu sekolah tersebut ada berbagai jurusan yang bisa dipilih oleh setiap siswa sesuai dengan keinginannya.
Feara berlari menuju dungeon dengan perasaan kesal. Bukan kesal karena ledekan dari Elbow, tapi karena ia lemah. Ia bahkan cukup lemah untuk kalah telak dari Elbow dalam pertarungan satu lawan satu. Saat ini ia mengambil jurusan warrior yang seharusnya unggul dalam pertarungan terbuka satu lawan satu. Meski begitu, ia tetap kalah oleh Elbow yang mengambil jurusan alchemist, tingkat kedua dari jurusan wizard yang ahli membantu kawan dengan serangan jarak menengah hingga jauhnya.
“Sial! Aku akan tunjukan padanya suatu saat nanti. Aku pasti akan membuatnya mengakuiku!” teriak Feara menyerang monster yang ia temui secara membabi buta. Monster sangat tidak menyukai radiasi yang ditempatkan di sekitar kota tersebut. Jika mereka mendekatinya dalam jarak tertentu, mereka dapat kehilangan kesadaran dalam sekejap. Tapi beberapa monster lemah yang biasa digunkan untuk mengintai memiliki sedikit daya tahan terhadap radiasi tersebut. Monster tersebut diberi bintang satu oleh guild-guild pusat. Semakin jauh dari kota maka radiasi semakin melemah dan monsternya pun bertambah bintangnya. Jauh ditempat yang sama sekali tidan terkena radiasi merupakan sarang monster yang berbintang sepuluh. Jarang ada yang selamat setelah bertemu dengan monter berbintang sepuluh.
Saking bersemangatnya tanpa sadar Feara sudah memasuki dungeon dengan monter berbintang dua. Dari pada semangat, mungkin lebih tepat rasa kesal yang salah sasaran pelampiasan. Mungkin awal-awal ia hanya bertemu dengan monster-monster yang lemah, tapi semakin lama pedang yang ia ayunkan seringkali mendapat perlawanan sengit dengan para monster. Tiba-tiba Feara merasakan firasat buruk, ia menoleh ke arah semak-semak dan meningkatkan kewaspadaannya. Pedangnya ia hunuskan siap menebas apapun yang akan keluar nantinya. Tanpa disadari, Feara sudah memasuki sarang Nedht, monster bintang dua yang sebenarnya tidak agresif, namun jika diusik mereka berubah menjadi predator yang sangat ganas.
Dari belakang Feara sebuah pedang terayun mengarah pada punggung Feara yang tidak terlindungi. Merasakan bahaya dari belakangnya Feara reflek melompat mundur sekaligus menghindari sabetan pedang yang terayun tadi. Dalam sekejap mata pelaku tindak penyabetan tadi menghilang ke dalam semak-semak. Bukan hanya soal kekuatan, tapi semakin tinggi bintang suatu monster, semakin pintar juga mereka.
“Sial, mereka terus bersembunyi diam-diam lalu menyerangku. Mungkin ini yang orang katakan diam-diam menghanyutkan,” gumam Feara pada dirinya sendiri. Matanya sangat awas melihat pergerakan semak-semak di depannya. Tiba-tiba tiga nedht keluar secara bersamaan dari pohon. Sayang Feara yang lebih siap dari sebelumnya dengan mudah mengayunkan pedang dan menghabisi ketiga nedht tersebut tanpa ampun. Tak menunggu lama nedht-nedht lain langsung menyerbunya tanpa ampun. Keseimbangannya yang belum pulih sehabis menebas tiga buah Nedht membuatnya tak dapat menghindar. Lebar mulut nedht-nedht membuak siap melahap Feara yang sudah mati langkah.
“Karena itulah kau selalu menjadi penghambat, dasar lemah!” seru sebuah suara dari kejauhan. Tiba-tiba saja anak-anak panah meluncur mengenai nedht-nedht yang menyerang Feara tepat di kepalanya. Jurus yang sama dengan yang digunakannya di kota tadi. Dengan santainya ia berjalan mendekati Feara yang sudah kembali berdiri tegak.
“He... ada apa? Apa kau terpesona pada kecantikanku hingga tidak dapat berkata-kata?” Elbow menundukkan kepalanya sedikit, kini wajah keduanya benar-benar berhadapan.
“Apa yang kau lakukan disini?” kata Feara dengan jengkel, mungkin karena ini kedua kalinya ia kalah dalam satu hari ini.
“Apa yang kau lakukan kah... bukankah itu kata-kata yang pedas untuk seseorang yang dengan repot-repot dari jauh datang hanya untuk mengurus anggota sampah di guildnya?” Elbow pun memalingkan wajahnya, kali ini ia membungkuk untuk memungut anak panah yang tadi ia luncurkan.
“Apa katamu!?” seru Feara membuntuti Elbow. Dalam sekejap seluruh panah yang tadi ia gunakan untuk membunuh para nedht berkumpul menjadi satu dan berubah bentuk menjadi tongkat seperti semula.
“Hmm... aku tidak keberatan jika kau menuntut pertandingan ulang. Seperti katamu, mungkin aku memang DIUNTUNGKAN tadi. Yah mau bagaimana lagi, anggota kelas pertama dipaksa berhadapan dengan anggota sampah,” dengan sengaja Elbow menekankan kata “diuntungkan” untuk menyindir seseorang yang jurusannya lebih diuntungkan dalam duel terbuka seprti itu.
“Itu...” tak sempat Feara melengkapi kalimatnya, tiba-tiba saja sesuatu mendekati mereka. Suara langkah yang bergema. Baik Feara dan Elbow pun tanpa bergeming menajamkan kewaspadaannya.
Suara langkah kaki tersebut semakin dekat, hingga dengusan nafas makhluk tersebut dapat di dengar oleh Feara dan Elbow. Sebuah gorila raksasa tiba-tiba melompat keluar dari semak dan menyerbu Feara dan Elbow. Tentu saja dengan mudah Feara dan Elbow dapat menghindari serangan tersebut, tapi dengan lincahnya gorila tersebut menarik kaki Feara dan membantingnya.
Selagi gorila tersebut bermain dengan Feara Elbow menyiapkan jurus andalannya, panah kayu. Tangannya menggenggam tongkat kayunya dan mulutnya merapal sesuatu. Selesai merapal anak-anak panah muncul diudara dan siap menyerang si gorila. Menyadari akan bahaya gorila tersebut segera melindungi diri dengan bongkahan batu besar yang entah dari mana ia mengambilnya. Panah yang diluncurkan tersebut pun terpental berceceran dimana-mana. Dengan lincah Feara kembali bangkit setelah dibuang begitu saja oleh si gorila dan menghunuskan pedangnya pada gorila tersebut. Feara pun berlari dan mengambil ancang-ancang rendah untuk menebas si gorila. Tanpa mengalami kesulitan gorila tersebut menurunkan satu tangan dan menghempaskan Feara ke tanah. Detik selanjutnya, Elbow meluncurkan panah dengan gerakan parabola keatas dan kesamping.
Melihat keadaan tersebut sang gorila melemparkan batu yang ia gunakan untuk payun dan melompat tinggi keatas. Elbow yang tidak siap menerima lemparan batu dari si gorila.
“Feara kau masih bisa bergerak?” kata Elbow sambil menahan rasa sakit tergencet batu.
“Dalam keadaan ini berdiri saja pun sudah susah,” kata Feara dengan keadaan yang tidak lebih baik. Si gorila kembali menuju ke arah Elbow. Dengan menggertakkan gigi, Elbow berusaha menakuti si gorila. Tanpa mempedulikan hal tersebut si gorila mengangkat tangan bersiap meluncurkan bogem mentah.
“Sampai disini saja kah...” gumam Elbow pada dirinya sendiri. Dari tangan gorila tersebut pun bermuncratan darah ketika bogem mentahnya mengenai Elbow.
“ELBOW!” teriak Feara dengan hinteris. Matanya melotot ke arah gorila tersebut yang kini sudah beranjak membalikan badan dan menatap Feara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar