Malam hari yang
damai di bawah sinar rembulan ditemani oleh alunan musik alam. Bar yang
dijadikan base camp guild broken sword memiliki penginapan tempat tinggal
seluruh anggota guild. Kini penginapan tersebut mendapat satu anggota baru yang
bahkan bukan anggota broken sword. Satu kamar dihuni oleh dua orang, karena itu
Feara yang masih sendiri mendapat pasangannya malam ini. Tapi di kamar pasangan
baru tersebut hanya terlihat dua buah kasur yang bergeletakan tak beraturan
tanpa ada seorang pun di dalamnya. Salah seorang penghuninya sedang duduk
merenung di teras depan bar yang kini hanya berhunikan meja dan kursi yang
telah rapih dibersihkan. Itu karena semua orang lelah sehabis seharian berburu
monster di dungeon dan tidak sempat mengadakan pesta.
“Hmm hmm...
hmm... hm hmm,” sebuah lantunan melayang di sepinya malam hari. Suara yang
keluar dari mulut seseorang yang baru saja diterima di dalam guild kecil ini.
“Kukira siapa,
ternyata kau. Tak bisa tidur?” Feara yang terbangun entah kenapa malam itu dan
menemukan kasur pasangannya sudah kempes tanpa orang di dalamnya, berjalan-jalan
di sekitar penginapan dan bertemu dengan pasangannya. Seperti biasa orang
tersebut tak mendengarkan dan meneruskan lantunannya tanpa terganggu oleh
kehadiran Feara.
“Karena kau
sudah bergabung dengan guild ini, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu?” kata
Feara yang masih di abaikan oleh orang tersebut. Feara pun menyerah mengajak
ngobrol dan akhirnya ikut duduk dan melakukan hal yang sama, bersenandung.
“Tax7 (baca:
Tax seven),” tiba-tiba orang tersebut menghentikan lantunannya. Feara yang kaget
juga ikut menghentikan lantunannya. Berbagai macam perasaan tercampur aduk
dalam benak Feara, antara takut, kaget, senang, dan lain-lain.
“Kau bisa
memanggilku begitu.”
“He... kau,
bisa bicara!?” kata Feara kaget. Tax7 tak mempedulikannya sama sekali,
tatapannya telah jauh menerawang ke angkasa. Feara pun menarik nafas dan
berusaha mengatur detak jantungnya yang berantakan.
“Hei Tax,” kata
Feara memanggil pelan. Kembali seperti biasa Tax7 kembali mengabaikannya dan
terus menapat di kegelapan angkasa. “Karena tadi ia membuka bibirnya jadi
kurasa ia akan sedikit terbuka denganku, tapi ternyata tak berubah sama
sekali,” kata Feara dalam hati.
“Apa yang kau
lihat di sana?” tanya Feara berusaha menarik perhatian Tax7 yang sejak awal
mengabaikan segala kata-kata dan pertanyaan yang ditujukan padanya. Feara
sejenak menatap Tax7 menunggu jawaban darinya. Percuma, Tax7 tetap melihat
langit tanpa menunjukan niat menjawab pertanyaan tersebut. Sadar akan hal
tersebut, Feara menghela nafas dan menundukan wajahnya.
“Jika kau
bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan
kau lakukan?” tanya Tax7 tiba-tiba. Kembali Feara dibuat terkejut olehnya.
“He?” Feara
mengangkat wajahnya dan menemukan Tax7 yang kini sudah menatapnya dengan
tatapan datar.
“Jika kau
bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan
kau lakukan?” kata Tax7 mengulangi pertanyaan yang sama.
“He, a... apa?”
kata Feara tidak mengerti maksud dari pertanyaan Tax7.
“Jika kau
bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan
kau lakukan?” kata Tax7 mengulangi pertanyaan yang sama untuk yang ketiga
kalinya.
“Bukan itu
maksudku, apanya yang bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas
kendali?” kata Feara. Tax7 memiringkan kepalanya, menurutnya pertanyaannya
sudah cukup jelas.
“Yah maksudku,
siapa orang yang menyebabkan itu semua? Dan kenapa aku harus bertemu dengan
dia?” kata Feara lagi menjelaskan maksudnya.
“Ini hanya
permisalan,” kata Tax7 singkat.
“Eh ah... kau
benar, ini hanya permisalan, iya ini hanya permisalan.” Sejenak Feara menarik
nafas menenangkan dirinya. Untuk yang kesekian kalinya, jantungnya melompat
keluar jika saja tidak dilindungi oleh tulang dadanya. Sejenak ia menaruh
telapak tangannya di atas keningnya dan menyisir rambutnya ke atas sembari
mencerna pertanyaan Tax7.
“Hmm...
entahlah aku tidak terlalu yakin. Setidaknya aku tidak akan menyalahkannya,
untuk semua ini. Aku bukan tipe orang yang mengungkit-ungkit masa lalu, biarlah
yang lalu berlalu. Begitulah. Dan lagi setelah semuanya aku bertemu dengan
orang-orang yang mengakuiku. Orang-orang yang dapat aku panggil keluarga,” kata
Feara. Tax7 sudah kembali menatap langit, sepi sebentar. Tidak ada satu pun
diantara mereka merusak ketenangan ini.
“Meski pun ia
yang menyebabkan orang yang kau sayangi dulu terbunuh?” tanya Tax7 tiba-tiba.
“Oi oi jika kau ingin menjawab, tidak perlu mengambil jeda sepanjang ini
bukan?” kata Feara tanpa menggerakan bibirnya. Kembali sejenak ia mengambil
nafas dan menyisir rambutnya ke belakang, menyusun kata-kata yang akan ia
keluarkan.
“Aku tidak
punya orang yang seperti itu. Bagiku, orang yang ku sayangi hanyalah mereka,
anggota guild broken sword. Tidak kurang, tidak lebih. Tentu saja kau
termasuk,” kata Feara.
“Meski pun ia
telah membuat orang-orang yang sekarang ini penting bagimu bersedih karena
kehilangan orang yang dulu mereka sayangi?” kali ini Tax7 tidak mengambil jeda
seperti sebelumnya, bahkan seperti ingin menyela kalimat Feara sebelumnya.
“Apa maksudmu?”
tanya Feara tidak mengerti dengan pertanyaan Tax7.
“Elbow dia
sudah kehilangan banyak orang yang ia sayangi dan orang yang kau temui adalah
penyebab itu semua,” kata Tax7 tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Soal itu...” kali ini untaian kalimat terhenti di giliran
Feara. Sepi. Feara terbungkam dan hanya menatap Tax7 yang kini berganti menatap
dirinya. Tax7 kembali menatap langit, ingin rasanya Feara menjawab pertanyaan
barusan tapi ia tak tahu harus menjawab apa. Elbow adalah temannya yang pertama
setelah pagi kehancuran. Feara pun tahu tentang keluarga serta teman-teman
Elbow sebelum pagi itu yang tewas mengenaskan. Tentunya ia ingin membalaskan
dendamnya, tapi entah mengapa ada yang mengganjal di tenggorokannya setelah
sebelumnya ia berkata akan memaafkannya. Tax7 bangkit entah menuju ke mana,
Feara pun tak tertarik dengan tempat yang dituju oleh Tax7. Ia memikirkan
tentang pertanyaan barusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar