Minggu, 26 April 2015

Seseorang Tanpa Tanda 3

Malam hari yang damai di bawah sinar rembulan ditemani oleh alunan musik alam. Bar yang dijadikan base camp guild broken sword memiliki penginapan tempat tinggal seluruh anggota guild. Kini penginapan tersebut mendapat satu anggota baru yang bahkan bukan anggota broken sword. Satu kamar dihuni oleh dua orang, karena itu Feara yang masih sendiri mendapat pasangannya malam ini. Tapi di kamar pasangan baru tersebut hanya terlihat dua buah kasur yang bergeletakan tak beraturan tanpa ada seorang pun di dalamnya. Salah seorang penghuninya sedang duduk merenung di teras depan bar yang kini hanya berhunikan meja dan kursi yang telah rapih dibersihkan. Itu karena semua orang lelah sehabis seharian berburu monster di dungeon dan tidak sempat mengadakan pesta.
“Hmm hmm... hmm... hm hmm,” sebuah lantunan melayang di sepinya malam hari. Suara yang keluar dari mulut seseorang yang baru saja diterima di dalam guild kecil ini.
“Kukira siapa, ternyata kau. Tak bisa tidur?” Feara yang terbangun entah kenapa malam itu dan menemukan kasur pasangannya sudah kempes tanpa orang di dalamnya, berjalan-jalan di sekitar penginapan dan bertemu dengan pasangannya. Seperti biasa orang tersebut tak mendengarkan dan meneruskan lantunannya tanpa terganggu oleh kehadiran Feara.
“Karena kau sudah bergabung dengan guild ini, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu?” kata Feara yang masih di abaikan oleh orang tersebut. Feara pun menyerah mengajak ngobrol dan akhirnya ikut duduk dan melakukan hal yang sama, bersenandung.
“Tax7 (baca: Tax seven),” tiba-tiba orang tersebut menghentikan lantunannya. Feara yang kaget juga ikut menghentikan lantunannya. Berbagai macam perasaan tercampur aduk dalam benak Feara, antara takut, kaget, senang, dan lain-lain.
“Kau bisa memanggilku begitu.”
“He... kau, bisa bicara!?” kata Feara kaget. Tax7 tak mempedulikannya sama sekali, tatapannya telah jauh menerawang ke angkasa. Feara pun menarik nafas dan berusaha mengatur detak jantungnya yang berantakan.
“Hei Tax,” kata Feara memanggil pelan. Kembali seperti biasa Tax7 kembali mengabaikannya dan terus menapat di kegelapan angkasa. “Karena tadi ia membuka bibirnya jadi kurasa ia akan sedikit terbuka denganku, tapi ternyata tak berubah sama sekali,” kata Feara dalam hati.
“Apa yang kau lihat di sana?” tanya Feara berusaha menarik perhatian Tax7 yang sejak awal mengabaikan segala kata-kata dan pertanyaan yang ditujukan padanya. Feara sejenak menatap Tax7 menunggu jawaban darinya. Percuma, Tax7 tetap melihat langit tanpa menunjukan niat menjawab pertanyaan tersebut. Sadar akan hal tersebut, Feara menghela nafas dan menundukan wajahnya.
“Jika kau bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan kau lakukan?” tanya Tax7 tiba-tiba. Kembali Feara dibuat terkejut olehnya.
“He?” Feara mengangkat wajahnya dan menemukan Tax7 yang kini sudah menatapnya dengan tatapan datar.
“Jika kau bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan kau lakukan?” kata Tax7 mengulangi pertanyaan yang sama.
“He, a... apa?” kata Feara tidak mengerti maksud dari pertanyaan Tax7.
“Jika kau bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali, apa yang akan kau lakukan?” kata Tax7 mengulangi pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya.
“Bukan itu maksudku, apanya yang bertemu dengan orang yang menyebabkan para monster lepas kendali?” kata Feara. Tax7 memiringkan kepalanya, menurutnya pertanyaannya sudah cukup jelas.
“Yah maksudku, siapa orang yang menyebabkan itu semua? Dan kenapa aku harus bertemu dengan dia?” kata Feara lagi menjelaskan maksudnya.
“Ini hanya permisalan,” kata Tax7 singkat.
“Eh ah... kau benar, ini hanya permisalan, iya ini hanya permisalan.” Sejenak Feara menarik nafas menenangkan dirinya. Untuk yang kesekian kalinya, jantungnya melompat keluar jika saja tidak dilindungi oleh tulang dadanya. Sejenak ia menaruh telapak tangannya di atas keningnya dan menyisir rambutnya ke atas sembari mencerna pertanyaan Tax7.
“Hmm... entahlah aku tidak terlalu yakin. Setidaknya aku tidak akan menyalahkannya, untuk semua ini. Aku bukan tipe orang yang mengungkit-ungkit masa lalu, biarlah yang lalu berlalu. Begitulah. Dan lagi setelah semuanya aku bertemu dengan orang-orang yang mengakuiku. Orang-orang yang dapat aku panggil keluarga,” kata Feara. Tax7 sudah kembali menatap langit, sepi sebentar. Tidak ada satu pun diantara mereka merusak ketenangan ini.
“Meski pun ia yang menyebabkan orang yang kau sayangi dulu terbunuh?” tanya Tax7 tiba-tiba. “Oi oi jika kau ingin menjawab, tidak perlu mengambil jeda sepanjang ini bukan?” kata Feara tanpa menggerakan bibirnya. Kembali sejenak ia mengambil nafas dan menyisir rambutnya ke belakang, menyusun kata-kata yang akan ia keluarkan.
“Aku tidak punya orang yang seperti itu. Bagiku, orang yang ku sayangi hanyalah mereka, anggota guild broken sword. Tidak kurang, tidak lebih. Tentu saja kau termasuk,” kata Feara.
“Meski pun ia telah membuat orang-orang yang sekarang ini penting bagimu bersedih karena kehilangan orang yang dulu mereka sayangi?” kali ini Tax7 tidak mengambil jeda seperti sebelumnya, bahkan seperti ingin menyela kalimat Feara sebelumnya.
“Apa maksudmu?” tanya Feara tidak mengerti dengan pertanyaan Tax7.
“Elbow dia sudah kehilangan banyak orang yang ia sayangi dan orang yang kau temui adalah penyebab itu semua,” kata Tax7 tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Soal itu...” kali ini untaian kalimat terhenti di giliran Feara. Sepi. Feara terbungkam dan hanya menatap Tax7 yang kini berganti menatap dirinya. Tax7 kembali menatap langit, ingin rasanya Feara menjawab pertanyaan barusan tapi ia tak tahu harus menjawab apa. Elbow adalah temannya yang pertama setelah pagi kehancuran. Feara pun tahu tentang keluarga serta teman-teman Elbow sebelum pagi itu yang tewas mengenaskan. Tentunya ia ingin membalaskan dendamnya, tapi entah mengapa ada yang mengganjal di tenggorokannya setelah sebelumnya ia berkata akan memaafkannya. Tax7 bangkit entah menuju ke mana, Feara pun tak tertarik dengan tempat yang dituju oleh Tax7. Ia memikirkan tentang pertanyaan barusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar