“Kau,
berani-beraninya!” sambil menggeram dengan cepat Feara mengambil kuda-kuda
rendah di bawah gorila tersebut. Sekali lagi gorila tersebut dengan mudahnya
menghempaskan Feara ke tanah. Feara yang terpental merasakan sakit yang luar
biasa di dadanya, ia pun menggeliat kesakitan di tanah. Tanpa jeda gorila
tersebut sudah bersiap dengan serangan keduanya. Feara yang baru saja pulih
dari rasa sakit tak mungkin dapat menghindari serangan gorila tersebut. Feara
pun berpikir cepat dan menemukan pedangnya yang terpental tak jauh dari
tempatnya sekarang. Selagi tinju mematikan sang gorila melayang ke arah Feara,
Feara berusaha menggapai pedangnya yang hanya berjarak satu meter jauhnya.
Detik demi detik berlalu dengan sangat lamban, tak sampai satu hasta jarak
tinju gorila tersebut dengan Feara. Sama halnya dengan Feara yang tinggal
sedikit lagi menggapai pedangnya yang terpental tadi. Dalam detik-detik itu
sekilas terasa debaran jantung Feara yang semakin cepat. Sebuah pertaruhan
nyawa saat pertamakalinya ia memasuki dungeon.
“Feara
merunduk!” seru sebuah suara dari dalam lebatnya hutan, suara yang amat
familier di telinga Feara. Tanpa banyak berpikir, Feara menuruti perintah suara
milik Elbow tersebut. Seketika sebuah perisai batu terbentuk di depan Feara dan
menghentikan tinju si gorila. Darah pun bermuncratan dari tangan si gorila.
Melihat kesempatan tersebut Feara bangkit mengambil pedangnya dan menyerang
gorila, sang gorila mengayunkan tangannya mencoba melakukan hal yang sama serti
sebelumnya. Akibat pukulan salah sasaran tadi ayunan tangan gorila melambat dan
dengan mudahnya dapat dihindari oleh Feara. Tanpa ragu, Feara pun menggorok
gorila tersebut di bagian perut hingga dadanya. Bagitu gorila tersebut
kesakitan tiba-tiba saja anak-anak panak yang terbuat dari batu kompak
menancapkan diri di tubuh si gorila.
“Waktu yang
tepat,” kata Feara kepada Elbow. Elbow hanya tersenyum lalu kembali
berkonsetrasi pada lawannya, begitu juga Feara. Gorila yang kesakitan tersebut
perlahan menghentikan perlawanannya sejenak. Baik Elbow maupun Feara, mereka
meningkatkan kewaspadaan. Selain kepada gorila yang baru saja mereka
tumbangkan, tetapi pada monster lain yang barang kali ada di sekitar mereka.
Setelah memastikan tidak ada apapun, Feara menyarungkan pedangnya dan mengambil
posisi duduk. Pucat di wajahnya masih terlihat jelas, tangannya pun tak bisa
berhenti gemetar. Elbow pun mengikutinya dan mengambil posisi duduk di sebelah
Feara, bersebrangan dengan gorila yang sejak tadi tidak menunjukan pergerakan.
“Kau baik-baik
saja?” Feara yang pertama kali membuka mulutnya.
“Apanya yang
baik-baik saja? Kau pikir dengan pergi ke dungeon berbahaya ini sendirian dapat
membuatmu diakui? Asal kau tahu, ini bukan game yang sering kita mainkan dulu. Tidak
ada hit point dan sebagainya, jika kau terkena serangan dari gorila tadi, bisa
dipastikan kau akan tewas. Sekarang lihat dirimu yang kacau itu, bahkan berdiri
pun kau takkan mampu,” omel Elbow panjang lebar.
“Maaf...” Feara
sudah kehabisan kata-kata untuk membalas. Ia hanya tertunduk menyesali
perbuatannya. Gara-gara ulahnya, ia hampir membuat Elbow terbunuh.
“Bahkan bagi
diriku yang sudah memasuki tahap kedua juga masih terlalu dini untuk memasuki
dungeon berbintang dua. Karena itu berjanjilah bahwa kau tidak akan
mengulanginya lagi,” kata-kata berhenti keluar dari mulut Elbow, perlahan air
mata meleleh di pipinya. “Aku sudah cukup kehilangan orang-orang yang kusayangi
dan aku tidak mau merasakan hal itu lagi, jadi...” suasana berubah menjadi
sendu, perlahan Feara pun merasakan sesuatu meleleh dari matanya.
“Aku berjanji,
tidak akan mengulanginya lagi,” kata Feara disela isak tangisnya. Untuk beberapa
saat susana menjadi semakin sendu dengan semilir angin yang numpang lewat.
“Ngomong-ngomong,
kenapa tidak ada monster lagi yang mendekat ya?” kata Elbow segera setelah
menyadari sesuatu yang aneh.
“Hmm?”
“Sekarang kita
ada di dungeon, terlebih lagi kita telah membuat keributan. Setelah semua itu,
kenapa tidak ada satu monster pun yang datang,” lanjut Elbow.
“Benar juga,”
kata Feara baru sadar akan keanehan tersebut.
“Perasaan ini,
jangan-jangan...” Elbow menyelidik udara di sekitarnya yang sedikit tenang dan
bergetar.
“RADIAS!” kata
Elbow dan Feara bersamaan.
“Sejak kapan?”
Elbow berkata pada dirinya sendiri memperhatikan sekitarnya barangkali orang
yang memasang pemancar radiasi di tengah dungeon ini masih berada di
sekitarnya. Bahkan bagi orang pertingkat tinggi, pemancar radiasi adalah barang
yang sangat langka. Bukan karena sulit mencarinya, tapi persyaratan untuk
mendapatkannya yang sangat ketat. Tiba-tiba Feara teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong
Elbow,” kata Feara.
“Apa?”
“Bagaimana kau
bisa lolos dari pukulan maut gorila tadi?”
“Soal itu, aku
diselamatkan oleh seseorang yang kira-kira seumuran dengan kita. Karena ia
bergerak dengan sangat cepat, mungkin ia mengambil jurusan teleporter.”
“He?” kata Feara
menatap Elbow dengan tatapan kebingungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar