Selasa, 21 April 2015

Seseorang Tanpa Tanda 1



Pagi itu matahari terbit dengan cahaya yang berbeda dari biasanya. Bukan, bukan kehangatan yang dibawa matahari tersebut. Pagi itu sama seperti pagi 10 tahun yang lalu. Pagi dimana semua berakhir, pagi kehancuran.
*trang*
Suara benturan gelas bir membangunkan Feara dari tidur nyenyaknya. Sepanjang kemarin sore, ia dan Elbow mendapat hukuman dari ketua guild atas kepergiannya ke dungeon tempo hari. Feara pun mengulat sejenak dan membiarkan tulang-tulangnya yang saling beradu berbunyi.
“Yo Feara, setelah tidur nyenyakmu, akhirnya kau bangun juga,” seseorang dengan suara berat menyapanya.
“Ini semua berkat ketua,” kata Feara pada ketua guild broken sword itu sendiri.
“Haha... lihat hasil kerjamu itu,” kata ketua sambil menunjuk bar yang mereka jadikan base camp.
“Haha, hasil kerja keras yang sia-sia. Mungkin lain kali aku akan berhati-hati agar tidak mengotori lantai jika berpesta,” kata Feara melihat keadaan base camp guildnya yang kembali kotor dalam waktu semalam setelah ia bekerja keras membersihkannya.
“Yah, setidaknya itu bagus untuk menyadarkanmu pentingnya kebersihan,” kata ketua.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak memberikan pekerjaan tersebut kepada mereka yang membuat kotor bar ini lagi?” protes Feara yang hanya dijawab dengan tawa keras dari ketua. Feara pun mendengus kesal.
“Ketua, kau lihat Elbow?” kata Feara tersadar Elbow yang jarang-jarang meninggalkannya.
“Hah, Elbow? Bukannya seperti biasa ia bersama dengan Feara?” kata ketua tercekat di akhir kalimat sadar bahwa lawan biacaranya adalah orang yang disebutkannya. Feara hanya menatap ketua dengan tatapan kecewa.
“Mungkin ia sedang mencari angin di pertokoan atau perpustakaan... hahaha,” lanjut ketua tak meyakinkan. Feara menghela nafas dan segera membalikan badan.
“Oi, mau kemana kau Feara?” tanya ketua.
“Tentu saja aku akan mencari Elbow, k-e-t-u-a,” kata Feara sengaja mengeja kata ketua. Dalam hati ia bertanya kenapa orang seperti dia mejadi ketua. Yah memang kemampuannya dalam pertempuran tak perlu diragukan lagi, tapi dalam hal memimpin di dalam guild masih ada orang yang lebih baik dari ketua. Misalnya wakil ketua Foxtail yang menjadi penyusun strategi ulung di dalam guild.
Lupakan tentang ketua guild gadungan, Feara kembali melaju di pelataran kota mencari seseorang yang untuk sementara ini menjadi mentornya, Elbow.
“Whoa Feara, sudah lama tak bertemu!” kata seseorang di tengah jalan. Ia mengenakan baju untuk berkebun. Usianya yang menginjak senja terlihat dari janggutnya yang keputihan.
“Setiap hari aku lewat sini kakek Goro,” kata Feara menjawab salam dari kakek Goro.
“Benarkah? Hahaha rasanya aku sudah 10 tahunan tidak bertemu dengan mu. Ini hasil kebun kakek sedang bagus, kau ambillah sebagian,” kata kakek Goro menjejalkan potongan kentang di tangan Feara.
“Eh tidak perlu, aduh kakek bukannya ini penghasilan kakek? Bagaimana nanti jika keuntungan tahun ini berkurang?” kata Fera mendorong kembali kentang tersebut.
“Apa yang kau katakan, tanpa kalian ladang kami akan musnah oleh monster-monster itu. Jangan sungkan terimalah,” kata kakek Goro kembali mendorong kentang tersebut. Setelah beberapa kali saling mendorong bungkusan kentang, akhirnya pertandingan tersebut dimenangkan oleh kakek Goro. Feara pun menerimanya dan menaruhnya di kantong bajunya.
“Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu tapi suatu saat nanti aku akan membalas kebaikanmu.” Feara kembali melanjutkan usahanya mencari Elbow setelah berpamitan pada kakek pelupa Goro. Bagi sebagian orang yang tidak memiliki kekuatan atau tidak berkeinginan melawan, mereka berkerja sebagai petani atau pun pembuat senjata. Banyak diatara mereka juga bekerja menghibur orang-orang. Mereka biasa disebut sebagai orang-orang sipil, sedang orang-orang yang bekerja menghabiskan monster di dungeon yah mungkin bisa disebut orang biasa.
Ditengah jalan Feara melihat seseorang berjubah hitam yang sangat mencurigakan. Sejak tadi ia berdiri di depan sebuah toko tanpa membeli. Ia tidak membawa senjata yang mencolok, tapi siapa yang tahu bila dibalik jubahnya itu ternyata ada senjata mematikan. Feara pun mendekati toko tempat orang tersebut berdiri mematung.
“Jika kau berdiri terus disitu, kau akan mengganggu pelanggan lain,” kata penjaga toko itu halus.
“Ada apa?” tanya Feara setibanya di depan toko tersebut.
“Soal itu, pelanggan ini terus berdiri di sini tanpa membeli. Kehadirannya disini pun menakuti pelanggan lainnya. Aku sudah mencoba menegurnya tapi ia sama sekali tidak mendengarkan,” kata penjaga toko tersebut sambil menunjuk orang tadi. Feara pun menatap orang mencurigakan tersebut.
“Hei, kau mengganggu pelanggan lain yang ingin berbelanja!”  kata Feara. Orang tersebut tak bergeming, atau mungkin bahkan tidak mendengar perkataan Feara.
“Hei, ku bilang kau mengganggu pelanggan!” kata Feara lagi. Respon yang sama diberikan oleh orang mencurigakan tersebut.
“AKU BILANG KAU MENGGANGGU!” seru Feara kali ini denga suara yang lebih keras. Berkat itu perhatian orang-orang di pasar tertuju pada toko tersebut. Tanpa mempedulikan orang disekitarnya, orang mencurigakan tersebut tidak bergeming sedikit pun. Feara yang sudah kesal segera mencabut pedangnya dan mengacungkannya ke dekat leher orang tersebut.
“Berani kau mengabaikanku, apa kau tuli? Nah kau lihat pedang ini, aku menyuruhmu untuk pergi,” kata Feara yang kesabarannya sudah terkuras hingga pada tetes terakhirnya. Bukannya pergi orang tersebut menatap pedang Feara yang mengkilap. Dalam sekejap entah apa yang terjadi orang tersebut sudah berbalik mengacungkan pedang Feara pada pemiliknya sendiri. Sejenak semua terdiam termasuk Feara. Pada detik selanjutnya orang tersebut menjatuhkan pedang Feara ke tanah.
Terlepas dari ancaman kematian, Feara mengambil langkah mundur mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah. Ia bersiap untuk melakukan pertarungan. Tiba-tiba saja orang mencurigakan tersebut terjatuh, terkapar di tanah. Sorak penonton bertepuk tangan menganggap kemenangan secara ajaib jatuh kepada Feara yang kini memeriksa orang tersebut apakah masih hidup atau sudah mati.
“Feara!” Elbow menerobos kerumunan penonton dan mendekati Feara. “Hey apa-apaan keributan ini?”
“Elbow, yah kau tahu sesuatu terjadi dan aku terlibat di dalamnya. Daripada itu, sejak pagi kau pergi ke mana?” tanya Feara.
“Mencari udara mengelilingi kota,” kata Elbow sambil memperhatikan orang yang tergeletak di pangkuan Feara yang kini memegangi lehernya mencari denyut nadi. “Orang ini...”
“Kau kenal dia?” kata Feara cepat sebelum Elbow menyelesaikan kalimatnya.
“Bukan kenal atau apa, tapi ia yang meloncat menyelamatkanku tempo hari di dungeon,” jelas Elbow.
“Dungeon?”
“Ituloh saat aku hendak terkena pukulan maut gorila waktu itu, dia yang menyelamatkanku.”
“Dia!? Orang yang kelihatannya sangat mencurigakan ini?“ kata Feara terkejut.
“Yah memang tampangnya sangat mencurigakan, ditambah jubah hitamnya yang melengkapi kesan mencurigakannya. Jadi apa yang terjadi hingga dia pingsan?”
“Tentang itu aku juga tak tahu. Ia merebut pedang dari tanganku dan tiba-tiba saja terkapar di sini,” kata Feara selesai mengecek status kehidupan orang mencurigakan tersebut. “Setidaknya ia belum mati.”
“Lalu kenapa dia bisa terkapar ya?” kata Elbow berusaha berpikir, begitu pula dengan Feara.
*kruyuk*
Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Suara perut yang menjerit karena belum terisi apapun sejak lama.
“Kau mendengar sesuatu?” kata Feara tak percaya dengan yang baru saja ia dengar.
“Seperti suara perut kelaparan,” kata Elbow lebih meyakinkan dirinya.
“Jangan bilang dia...” kata Feara dan Elbow bersamaan sambil menatap orang mencurigakan yang kini sedang terkapar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar