Rabu, 22 April 2015

Seseorang Tanpa Tanda 2



“Tak bisa dipercaya, kau pingsan hanya karena lapar?” kata Feara memperhatikan orang mencurigakan tersebut makan.
“Hei, biarkan saja dia. Ini adalah balasanku untuk menyelamatkanku di dungeon tempo hari,” kata Elbow membalas. Yang dibicarakan hanya diam sambil menyantap apapun yang ada di atas meja makan.
“Entah kenapa aku merasa tidak akan akrab dengan makhluk seprtinya,” kata Feara hendak mengambil potongan daging ayam di meja bersamaan dengan tangan orang mencurigakan tersebut yang hendak mengambil potongan yang sama. Mata keduanya pun bertemu dan saling mengibarkan bendera perang.
“Benarkah? Meski pun ia tidak banyak bicara, tapi entah kenapa aku menyukainya,” kata Elbow.
“Kami pulang,” kata serombongan anggota guild yang baru pulang dari dungeon. Mereka disambut penjaga bar. Sudah menjadi kontrak bahwa barang-barang dungeon harus disisihkan untuk bar tempat base camp guild broken sword tersebut.
“Feara, Elbow dan... kalian sudah pulang?” kata ketua terputus sejenak melihat orang ketiga diantara Feara dan Elbow.
“Ketua, selamat datang,” kata Elbow sambil tersenyum. Feara hanya mengangguk pelan, diikuti oleh orang ketiga yang lalu melanjutkan santapannya.
“Jadi, siapa orang ditengah yang sedang makan itu?” kata ketua. “Tentunya kalian akan memperkenalkannya pada kami semua bukan?”
“Kami bahkan tidak tahu namanya, sejak awal bertemu, ia tidak berbicara satu patah katapun,” kata Elbow.
“Tidak ada lencana guild atau lambang sekolah,” kali ini Feara yang angkat bicara.
“Yah setiap orang pasti punya masalahnya sendiri, tak terkecuali dirinya. Hahaha... bila ia memang ingin membicarakannya, cepat atau lambat ia akan berbicara,” kata ketua dengan tawa khasnya. Orang yang dibicarakan tanpa peduli sekitarnya terus menyantap makanan yang ia lahap.
Hari berlalu dengan cepat, malam pun tiba tanpa memberi peringatan. Begitu pula dengan hari esok yang akan datang tanpa permisi. Hanya tinggal beberapa hari sebelum pagi itu tiba, pagi disaat mentari tidak memberikan kehangatan. Tanpa permberitahuan tanpa permisi, bagai tamu yang tak diundang dalam sebuah pesta besar. Seperti 10 tahun yang lalu dimana umat manusia berhadapan dengan musuh baru di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar